Artikel

SEKILAS KABUPATEN KOTABARU

6 December 2010 | 11:06  -  ditulis oleh: bpn kab. kotabaru

  EMAIL     PRINT


Kabupaten Kotabaru adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Kotabaru. Kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten pertama dalam provinsi Kalimantan dahulu. Dan di masa Hindia Belanda merupakan Afdeeling Pasir en de Tanah Boemboe dengan ibukota Kota Baru. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 13.044,5 km² dan berpenduduk sebanyak 290.651 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010) dengan nelayan laut sebanyak 15.961 jiwa. Motto daerah ini adalah "Sa-ijaan" (bahasa Banjar) yang memiliki arti: Semufakat, satu hati dan se-iya sekata.

Letak Kotabaru pada 01°21'49" sampai dengan 04°10'14" Lintang Selatan dan 114°19'13" sampai dengan 116°33'28" Bujur Timur.
Letak Kotabaru di sebelah timur laut provinsi Kalimantan Selatan, yaitu:
Utara Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur
Selatan Kabupaten Tanah Bumbu dan Laut Jawa
Barat Kabupaten Balangan, Hulu Sungai Tengah, Banjar dan Tanah Laut
Timur Selat Makassar


Sejarah Kabupaten Kotabaru
Menurut Hikayat Banjar pada abad ke-17, Kabupaten Kotabaru termasuk dalam wilayah pemerintahan Aji Tunggul adipati Pasir yang menjadi bawahan Sultan Banjar IV Marhum Panembahan/Sultan Mustainbillah. Pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah, ia menyuruh Kiai Martasura ke Makassar/Gowa untuk menjalin hubungan bilateral kedua negara pada masa Karaing Patigaloang ( Raja Tallo', yaitu I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang yang menjabat mangkubumi Sultan Malikussaid Raja Gowa 1638-1654), dimana ia telah memohon ijin untuk meminjam kawasan Pasir (termasuk Kabupaten Kotabaru) kepada Marhum Panembahan sebagai tempat berdagang dan ia telah bersumpah apabila anak cucunya hendak menganiaya negeri Banjar maka akan dibinasakan Allah.

Maka diberikanlah daerah-daerah yang ada di sepanjang kawasan tenggara dan timur pulau Kalimantan sebagai tempatnya berdagang. Peristiwa pada abad ke-17 ini menunjukkan pengakuan Makassar (Gowa-Tallo) mengenai kekuasaan Kesultanan Banjar terhadap daerah di sepanjang tenggara dan timur pulau Kalimantan. Pada masa itu Sultan Makassar lebih terfokus untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di kawasan timur Nusantara. Tetapi pada abad ke-18 Raja Bugis-Wajo, La Madukelleng sempat menawan daerah Kutai dan Pasir serta berupaya menyerang Banjarmasin.

Kerajaan yang pertama kali didirikan di daerah ini adalah kerajaan Tanah Bumbu yang beribukota di Bangkalaan Melayu yang merupakan keturunan dinasti Raja-raja Banjar.

Raja Tanah Bumbu[1]
  1. Pangeran Dipati Tuha/Raden Basus bin Sultan Saidullah (1660-1700)
  2. Pangeran Mangu bin Pangeran Dipati Tuha (1700-1740)
  3. Ratu Mas binti Pangeran Mangu (1740-1780)[2]
  4. Kerajaan Tanah Bumbu berakhir karena wilayahnya dibagi menjadi wilayah kerajaan kecil dengan berpusat di kerajaan Bangkalaan sejak 1780
Raja Bangkalaan[3]
  1. Pangeran Prabu/Sultan Sepuh, putera Ratu Mas (1780-1800)
  2. Pangeran Nata bin Pangeran Prabu (1800-1820)
  3. Pangeran Seria bin Pangeran Prabu (1800-?), sekaligus Raja Tjingal, Tjangtoeng dan Batoe Litjin
  4. Gusti Besar binti Pangeran Prabu (1820-1830), sekaligus Ratu Manoenggoel dan Sampanahan, kemudian Sampanahan diberikan kepada Pangeran Mangku Bumi/Gusti Ali
  5. Gusti Kamir (1830-1838)
  6. Pangeran Musa bin Pangeran Haji Muhammad (1838-1840), merangkap Raja Batulicin (sejak 1832), kemudian keturunannya:
    1. Pangeran Jaya Sumitra (Raja Kusan dan Batulicin)
    2. Pangeran Abdul Kadir Kasuma (Raja Kusan, Batulicin dan Pulau Laut)
    3. Pangeran Berangta Kusuma (Raja Pulau Laut dan Batulicin), menikah dengan Putri Intan Jumantan binti Pangeran Kasuma Indra
    4. Pangeran Amir Husin Kasuma (Raja Pulau Laut)
    5. Pangeran Aminullah Kasuma (Raja Pulau Laut)
  7. Pangeran Aji Jawa (1840) (putera Gusti Besar)
  8. Aji Tukul/Ratu Agung (1845)
  9. Aji Pati dengan gelar Pangeran Agung, suami Aji Tukul (1845-1846)
  10. Aji Samarang gelar Pangeran Muda Muhammad Arifillah bin Aji Pati (1846-1883), sekaligus Raja Tjingal dan Manoenggoel.
Kabupaten Kotabaru terbentuk dari gabungan bekas swapraja/kerajaan pada masa kolonial Hindia Belanda, yaitu Bangkalaan, Poelau Laoet, Tjangtoeng, Sampanahan, Tjingal dan Manoenggoel.